RSS

Listen2Quran

Tuesday, 1 February 2011

Kisah Nabi Sulaiman a.s.

Allah s.w.t berfirman:

"Dan sesungguhnya Kami telah memberi ilmu kepada Daud dan Sulaiman; dan keduanya mengucapkan: 'Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hamba-Nya yang beriman.' Dan Sulaiman telah mewarisi Daud dan dia berkata: 'Wahai umat manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu, sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu kurnia yang nyata.' "(QS. an-Naml: 15 - 16)

"Dan Sulaiman telah mewarisi Daud." Beliau mewarisi Daud dalam sisi kenabian dan kuasa, bukan mewarisi harta kerana para nabi tidak mewariskan. Sebab sepeninggal mereka, harta mereka menjadi sedekah bagi orang-orang yang ada di sekitar mereka, iaitu orang-orang fakir dan orang yang memerlukan. Dan harta para nabi tidak dikhususkan bagi kalangan keluarganya. Rasulullah saw bersabda: "Kami para nabi tidak mewariskan." Sulaiman mewarisi kenabian dari Daud. Ini adalah hal yang jelas. Allah swt telah memilihnya sebagai Nabi dari Bani Israil. Begitu juga, Allah swt telah memberinya kekuasaan (kerajaan) sehingga ia menjadi pimpinan Bani Israil. Barangkali sesuatu yang paling penting yang diwarisi oleh Sulaiman dari Daud adalah tradisi tentera. Kemajuan tentera yang dahsyat ini telah berpindah kepada Sulaiman. Daud sebenarnya adalah seorang penggembala kambing yang miskin, tetapi seiring dengan perjalanan waktu, ia menjadi komandan pasukan yang tiada tandingannya. Laman keadaan ini adalah sebagai bentuk ilham dari Allah swt dan sebagai sokongan dari-Nya.

Daud mengetahui bahawa kekuatan yang hakiki yang mengatur alam wujud adalah kekuatan Allah swt Ketika ia menghulurkan tangannya dan memegang potongan batu lalu beliau melemparkannya melalui katapelnya ke arah Jalut, maka ini sebagai bentuk demonstrasi kekuatan darinya. Kehadiran Nabi Daud mengubah keadaan pasukan Bani Israil di mana mereka sebelum lari jika berhadapan dengan musuh, maka kini kewujudan mereka mulai diperhitungkan. Di masa hidupnya, Daud mengalami peperangan yang cukup banyak namun Al-Quran tidak menceritakan secara terperinci hal itu. Al-Quran adalah kitab dakwah di jalan Allah swt, dan bukan kitab sejarah. Al-Quran hanya mengatakan:

"Dan Kami kuatkan kerajaannya." (QS. Shad: 20)

Ayat tersebut bererti bahawa Daud belum pernah terkalahkan dalam peperangan yang diikutinya. Di samping sokongan yang Allah swt berikan kepada Daud, juga pasukannya dan rakyatnya di mana mereka adalah orang-orang yang bertauhid dan menyerahkan diri kepada Allah swt, Allah swt mendedahkan kepada Daud hal-hal yang menjadikan pasukannya memiliki keistimewaan yang dengannya mereka dapat mengalahkan pasukan- pasukan yang lain yang ada di bumi saat itu.

Allah s.w.t berfirman:

"Dan Kami telah melunakkan besi untuknya." (QS. Saba ': 10)

Masalah baju besi yang dibuat untuk orang-orang yang hendak berperang cukup mengganggu gerakan mereka. Anda boleh bayangkan ketika ada dua orang yang berperang yang salah satunya dapat bergerak dengan bebas, sementara yang lain tidak leluasa bergerak. Namun dengan kekuasaan Allah swt, Nabi Daud dapat melembutkan besi dan membuat darinya baju besi yang ringan. Ini adalah kemajuan penting yang Allah swt berikan kepada Daud dan tenteranya. Kemajuan ini kini dimiliki oleh Sulaiman. Demikianlah Sulaiman mempunyai pasukan yang dahsyat yang melebihi pasukan mana pun di bumi saat itu. Bahkan Allah swt menambah kurnia-Nya kepada Sulaiman:

"Dan Sulaiman telah mewarisi Daud, dan dia berkata: 'Wahai umat manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu kurnia yang nyata.'" (QS. an-Naml: 16)

Ketika kita membuka lembaran-lembaran sejarah kehidupan Nabi Sulaiman yang diungkap oleh Al-Quran, maka kita akan mengetahui bahawa kita berada di masa keemasan Bani Israil, iaitu masa Nabi mereka dan penguasa mereka Sulaiman. Sulaiman tidak merasa puas dengan apa yang telah diwarisinya dari Daud. Ambisinya mendorongnya untuk mendapatkan sesuatu yang lebih besar.

Pada suatu hari ia menadah tangannya dan berdoa kepada Allah swt Antara hati Nabi dan Allah swt tidak ada penghalang, jarak, atau masa. Tak seorang pun dari para nabi yang berdoa kepada Allah swt kecuali doanya pasti terkabul. Kejernihan hati ketika mencapai puncak tertentu, maka ia akan menggapai apa saja yang diinginkan di jalan Allah swt Dalam doanya, Nabi Sulaiman berkata:

"Ia berkata: Ya Tuhanku, ampunilah aku dan kurniakanlah kepadaku sebuah kerajaan yang tidak dimiliki oleh seseorangpun sesudahku." (QS. Shad: 35)

Sulaiman menginginkan dari Allah swt suatu kerajaan yang belum pernah diperolehi oleh sesiapa pun setelahnya. Allah swt mengabulkan doa hamba-Nya Sulaiman dan memberinya kerajaan tersebut. Barangkali orang-orang yang hidup di saat ini bertanya-tanya mengapa Sulaiman meminta kerajaan ini yang belum pernah dicicipi oleh seorang pun setelahnya? Apakah Sulaiman - sesuai dengan bahasa kita saat ini - seorang lelaki yang gila kuasa. Tentu kita tidak menemukan sedikit pun masalah yang demikian dalam hati Sulaiman. Cita-cita Sulaiman untuk mendapatkan kuasa atau kerajaan adalah cita-cita yang ada di dalam seorang nabi, dan tentu cita-cita para nabi tidak berkaitan kecuali dengan kebenaran. Cita-cita tersebut adalah bertujuan untuk memudahkan penyebaran dakwah di muka bumi. Sulaiman sama sekali tidak cinta kepada kuasa dan ingin menunjukkan sikap kesombongan namun beliau ingin mendapatkan kuasa untuk memerangi kezaliman yang tersebar di muka bumi. Perhatikanlah kata-kata Sulaiman kepada Balqis ketika beliau berdialog dengannya tentang singgahsananya dalam surah an-Naml:

"Dan ketika Balqis datang, bertanya kepadanya: 'Serupa inikah singgahsanamu?' Dia menjawab: 'Seakan-akan singgahsana ini singgahsanaku, kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri. " (QS. an-Naml: 42)

Demikianlah kata-kata Sulaiman yang bijaksana. Menurut kami, itu adalah kata-kata yang membenarkan permintaannya untuk memiliki kuasa dan kekuatan. Sulaiman telah mengerahkan semua kemuliaan dan kekuasaannya dalam rangka menegakkan agama Allah swt dan menyebarkan Islam. Tidakkah ratu Saba 'berkata pada akhir ceritanya bersama Sulaiman:

"Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam." (QS. an-Naml: 44)

Setelah Mukadimah pokok ini, marilah kita membuka laman-laman cerita Nabi Sulaiman. Nabi Sulaiman mewarisi kuasa, kenabian, dan hikmah (ilmu) dari Daud. Orang-orang menyebutnya: Sulaiman al-Hakim (Sulaiman yang bijaksana). Kebijaksanaan Nabi Sulaiman tidak terhad pada keadilannya di tengah-tengah manusia dan kasih sayangnya kepada mereka namun dasar Sulaiman juga berlaku di kalangan burung dan binatang yang lain. Nabi Daud juga mengenal bahasa burung, tetapi Sulaiman dapat berbicara dengan bahasa burung, bahkan ia dapat menjadikannya pembantunya. Ketika Nabi Daud bertasbih, maka gunung-gunung dan burung-burung serta binatang-binatang buas pun ikut bertasbih bersamanya bahkan angin pun berhenti untuk mendengar tasbih ini, sedangkan Nabi Sulaiman, Allah swt memberinya kurnia lebih dari itu di mana binatang-binatang buas tunduk padanya , begitu juga angin dan burung.

Allah s.w.t berfirman:

"Dan sesungguhnya Kami telah memberi ilmu kepada Daud dan Sulaiman; dan keduanya mengucapkan: 'Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hamba-Nya yang beriman.' Dan Sulaiman telah mewarisi Daud dan dia berkata: 'Wahai umat manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu, sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu kurnia yang nyata.' "(QS. an-Naml: 15 - 16)

Nabi Sulaiman mampu mendengar bisikan semut yang bercakap dengan sesama mereka, bahkan ia mampu memerintahkan semut tersebut sehingga semut itu taat kepada perintahnya. Pasukan Nabi Sulaiman memiliki kekuatan yang sangat dahsyat di dunia. Belum pernah ada di dunia suatu pasukan yang memiliki kekuatan seperti ini, Kekuatan Nabi Sulaiman berasal dari beberapa kombinasi yang sangat mengagumkan sehingga kerananya ia tidak dapat tertanding. Kekuatan itu terdiri dari manusia, jin, dan burung. Kita mengetahui bahawa jin adalah makhluk Allah swt dan manusia tidak mampu melihatnya atau menghadirkannya atau meminta pertolongannya, sedangkan Sulaiman telah diberi Allah swt kemampuan untuk menundukkan jin dan memperkerjakan mereka sebagai tentera di tengah-tengah peperangan, bahkan ia mampu menjadikan mereka sebagai pekerja-pekerja kasar di kerajaannya saat tidak ada peperangan. Ketika ada pasukan lain yang mencuba melawan pasukan ini, maka mustahil mereka akan merasakan kemenangan. Bahkan pasukan Sulaiman juga diperkuatkan oleh pasukan burung. Burung di pasukan Sulaiman memerankan tugas penting. Iaitu apa yang kita kenal saat ini dengan istilah badan perisikan. Kita mengetahui bahawa peranan maklumat saat peperangan adalah hal yang sangat penting. Dari maklumat tersebut, pasukan dapat mengetahui keadaan musuhnya. Demikianlah peranan burung pada pasukan Sulaiman. Ia terbang di tengah-tengah musuh kemudian ia kembali kepada Sulaiman untuk menyampaikan berita tentang keadaan musuhnya. Di samping jin dan burung, Allah swt juga menundukkan angin untuk Nabi Sulaiman. Nabi Sulaiman dapat memerintah angin dan ia mampu untuk menaiki angin bersama tenteranya.

Sekarang, kita mengetahui bahawa idea adanya pesawat terbang adalah berangkat dari usaha memanfaatkan hawa di mana pesawat tersebut dapat terbang di dalamnya meskipun ia lebih berat darinya. Namun sejak dahulu Allah swt memberikan kemampuan ini kepada Sulaiman di mana ia mampu menundukkan angin dan menggunakannya demi kepentingannya. Oleh kerana itu, pasukan Sulaiman juga terdiri dari pasukan udara pada saat di mana tak seorang pun memimpikan untuk terbang di udara. Barangkali mukjizat ini yang Allah swt berikan kepada Sulaiman menjadi sebab kejayaan tenteranya sehingga pasukannya tidak tertanding. Allah s.w.t berfirman:

"Dan dihimpunkan kepada Sulaiman tenteranya dari jin, manusia dan burung, lalu mereka diatur dengan tertib (dalam barisan)." (QS. an-Naml: 17)

"Kemudian Kami tundukkan kepada angin yang berhembus dengan baik menurut ke mana saja yang dikehendakinya, dan (Kami tundukkan pula kepadanya) syaitan-syaitan semuanya ahli bangunan dan penyelam, dan syaitan yang lain yang terikat dalam belenggu. Inilah anugerah Kami;, maka berikanlah (kepada orang lain) atau tahanlah (untuk dirimu sendiri) dengan tiada pertanggungan jawab. Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan yang dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik. " (QS. Shad: 36-40)

Kita akan mengetahui bahawa Sulaiman akan meninggalkan idea untuk menggunakan kuda di tengah-tengah pasukannya selepas ia pada suatu hari dibuatnya lupa pada solat. Ketika Sulaiman meninggalkan kuda dalam rangka mencapai redha Allah swt, maka Dia menggantikannya dengan angin yang bertiup sesuai dengan kehendaknya ke mana pun ia pergi dan ke mana pun tempat yang diinginkannya. Di samping senjata udara yang Allah swt berikan kepada Sulaiman, Allah swt juga memberikan kemampuan yang tak seorang pun dari para nabi mendapatkannya. Iaitu kemampuan untuk memerintah syaitan. syaitan adalah salah satu bahagian dari jin. Ia adalah kelompok yang celaka dari jin. Kumpulan ini sebenarnya tidak mampu dikuasai oleh manusia, bahkan jin yang soleh pun tidak dapat menetapkan mereka. Adapun Sulaiman, Allah swt telah memberinya kuasa untuk menundukkan syaitan dan mempekerjakannya bahkan mengikatnya dengan rantai serta menghukumnya jika ia menentang perintahnya.

syaitan membina untuk Sulaiman istana dan patung-patung dan alat-alat perang. Bahkan syaitan-syaitan itu menyelam di dasar lautan untuk mengeluarkan permata dan yakut untuk Nabi Sulaiman. Jika ada di antara syaitan yang menentang perintahnya, maka Nabi Sulaiman mengikatnya dengan rantai. Ini semua menunjukkan kekayaan Sulaiman dan kekuasaannya di mana ia mampu mengatur banyak makhluk di dunia. Tentu kemampuannya itu atas izin atau kehendak dari Tuhannya sebagai mukjizat dari-Nya. Allah s.w.t berfirman:

"Dan sebahagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan izin Tuhannya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala. Para jin itu membuat untuk Nabi Sulaiman apa yang dikehendakinya dari bangunan-bangunan yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). " (QS. Saba ': 12)

Nabi Sulaiman yang bijaksana adalah penguasa yang tak tertanding di muka bumi. Walaupun memperoleh nikmat-nikmat yang khusus dan agung ini yang Allah swt berikan kepada Sulaiman, beliau tetap menunjukkan sebagai manusia yang paling banyak berzikir kepada-Nya dan manusia yang paling banyak bersyukur di zamannya.

Allah s.w.t berfirman tentang Nabi Sulaiman:

"(Sulaiman) sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya)." (QS. Shad: 30)

Al-Aubah ialah kembali kepada Allah swt melalui solat, puasa, tasbih, menangis, istighfar, dan mengungkapkan rasa cinta yang dalam. Hamba yang kembali adalah hamba yang menuju Allah swt Waktu solat bagi Sulaiman adalah waktu yang sangat penting sehingga ketika datang waktu itu, maka beliau tidak boleh disibukkan dengan hal yang lain. Pada suatu hari, beliau nyaris kehilangan waktu solat. Tentu hal ini di luar kehendaknya. Pada masa itu, beliau sibuk mengurus persoalan yang penting, iaitu menyiapkan tentera untuk perang. Saat itu bertepatan dengan waktu Asar. Sulaiman masih menyiapkan kuda tentera-tenteranya. Kuda pada waktu itu menjadi senjata yang penting di tengah-tengah pasukannya. Sulaiman lewat di depan kuda dan memeriksanya sehingga beliau nyaris kehilangan waktu solat Asar.

Sulaiman sujud kepada Allah swt kemudian ia solat. Ia meminta agar kuda itu dikembalikan kepadanya. Ketika kuda datang, ia mengusap lehernya dan kakinya dengan tangannya lalu ia meminta ampun kepada Allah swt kerana ia sibuk menyiapkan tentera untuk berjihad sehingga nyaris kehilangan waktu solat. Sejak peristiwa itu, Sulaiman merasa tidak lagi memerlukan kuda di tengah-tengah pasukannya. Lalu Allah swt menggantikannya dengan angin yang mampu membawa tenteranya ke mana pun ia pergi. Allah s.w.t berfirman:

"Dan Kami kurniakan kepada Nabi Daud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya). (Ingatlah) ketika dipertunjukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang di waktu berhenti dan cepat waktu berlari pada waktu sore. Maka ia berkata : 'Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai kuda itu hilang dari pandangan.' Bawalah semua kuda itu kembali kepadaku. ' Lalu ia potong kaki dan leher kuda itu. " (QS. Shad: 30-33)

Sulaiman mengetahui penyakit kuda dan ia mampu berbicara dengan bahasa kuda, bahkan kuda itu pun mentaati perintah Nabi Sulaiman. Allah swt juga memberikan kenikmatan lain atas Sulaiman Allah swt berfirman:

"Dan Kami alirkan cairan tembaga baginya." (QS. Saba ': 12)

Al-Kithir adalah tembaga yang dicairkan. Sebagaimana Allah swt memberikan nikmat atas ayahnya Daud di mana ia mampu melunakkan besi dan Allah swt mengajarinya bagaimana cara mencairkannya, maka Sulaiman pun memanfaatkan tembaga yang cair itu untuk peperangan dan di saat keamanan. Pada masa peperangan beliau mencampur tembaga dengan besi dan membuat darinya gangsa. Mereka menggunakan senjata-senjata gangsa dalam peperangan, seperti pedang, baju besi dan pisau. Senjata-senjata ini adalah senjata yang paling kuat di saat itu. Sedangkan di saat keamanan, tembaga digunakan untuk membuat bangunan, patung, dan sebagainya. Walaupun Nabi Sulaiman mendapatkan nikmat yang besar ini dan kurnia yang khusus, Allah swt telah mengujinya dengan suatu ujian. Ujian akan selalu datang pada seorang hamba. Ketika hamba itu mendapat kedudukan besar, maka ujiannya pun menjadi besar. Allah s.w.t menguji Sulaiman dengan penyakit.

Allah s.w.t berfirman:

"Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan (dia) tergeletak di atas kerusinya sebagai tubuh (yang lemah kerana sakit), kemudian ia bertaubat. Ia berkata: 'Ya Tuhanku, ampunilah aku anugerahkanlah kerajaan yang tidak dimiliki oleh seseorang pun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi. Kemudian Kami tundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut ke mana saja yang ia kehendakinya, dan (Kami tundukkan pula kepadanya) syaitan-syaitan semuanya ahli bangunan dan penyelam. "(QS. Shad: 34-37)

Para ahli tafsir berbeza pendapat tentang fitnah atau ujian yang dialami oleh Nabi Sulaiman. Barangkali daripada yang paling terkenal dalam hal ini adalah riwayat yang paling penuh dengan kebohongan. Dikatakan bahawa Sulaiman bertekad untuk menggilir isteri-isterinya yang berjumlah tujuh ratus pada satu malam saja untuk melakukan hubungan seks dengan mereka, sehingga para wanita itu akan melahirkan seorang anak yang dapat berperang di jalan Allah swt Sulaiman tidak mengatakan insya-Allah lalu ia menggilir isteri-isterinya dan tidak ada seorang pun yang melahirkan kecuali seorang wanita yang melahirkan anak yang buruk rupa.

Kisah tersebut berbeza atau percanggahan dari permulaannya dan akhirannya. Tentu kisah itu berasal dari cerita khurafat yang direkayasa oleh orang-orang Yahudi atau termasuk dari israiliyat. Hakikat ujian yang dialami Nabi Sulaiman adalah apa yang disebutkan oleh Fakhrur Razi: "Sulaiman diuji dengan suatu penyakit yang keras di mana kedoktoran saat itu tidak mampu mengatasinya. Sakitnya Sulaiman sangat kuat sehingga para doktor dari kalangan manusia dan jin pun tidak mampu menghilangkan penyakitnya. Lalu burung-burung menghadirkan rumput-rumput yang dianggap sebagai ubat tetapi Sulaiman pun belum juga sembuh. Semakin hari penyakit Sulaiman semakin menjadi-jadi sehingga ketika Sulaiman duduk di atas kerusi ia duduk bagaikan tubuh tanpa roh, seakan-akan ia mati kerana saking kerasnya penyakit yang dideritanya. Sakit yang diderita oleh Sulaiman terus berlanjutan untuk beberapa saat namun Sulaiman tidak henti-henti berzikir kepada Allah swt dan meminta kesembuhan kepada-Nya serta beristighfar kepada-Nya dan mengungkapkan rasa cintanya kepada-Nya. "

Selesailah ujian Allah swt terhadap hamba-Nya, Sulaiman. Beliau pun sembuh. Kini Sulaiman merasakan kembali kesihatannya setelah ia mengetahui segala kejayaannya dan segala kekuasaannya serta segala kebesarannya tidak lagi mampu menghilangkan penyakit yang dideritanya kecuali jika Allah swt menghendakinya. Inilah pendapat yang lebih menenangkan hati kami. Pendapat tersebut sesuai dengan kemaksuman Sulaiman sebagai Nabi yang bijaksana dan Nabi yang mulia:

"Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan (dia) tergeletak di atas kerusinya sebagai tubuh (yang lemah kerana sakit)" (QS. Shad: 34)

Sakit yang diderita Sulaiman membuat dirinya seperti jasad yang tak bernyawa. Kata jasad dalam bahasa Bahasa Arab diungkapkan atas sesuatu yang kehilangan kehidupan atau kesihatan. Sulaiman berubah menjadi jasad kerana saking kerasnya penyakit yang dideritanya.

"Kemudian ia bertaubat." (QS. Shad: 34)

Lalu Nabi Sulaiman kembali sihat. Ia meminta pertolongan dengan rahmat Allah swt, lalu Allah swt menyembuhkannya dan merahmatinya. Nabi Sulaiman telah membina masjid atau tempat beribadah sehingga manusia menyembah Allah swt di dalamnya. Rumah ini menunjukkan keunggulan seni arkitektur dan seni pahat. Orang-orang yang membina rumah ini berjumlah puluhan ribu orang. Tentu setiap kumpulan dari mereka mempunyai pekerjaan masing-masing. Di antara mereka ada yang mencairkan tambang; di antara mereka ada tukang pahat; ada yang membelah batu, ada yang memotong-motong kayu; ada yang mendatangkan rumput-rumput dari Lubnan; ada yang mencairkan emas dan menjadikannya lempengan-lempengan yang berkilat untuk menutup kayu dan menutupi dinding.

Bahkan golongan jin juga membantu pembangunan rumah tersebut, tentu dengan perintah dan bimbingan Nabi Sulaiman. Mereka membuat patung-patung yang besar dan membuat bejana yang besar untuk tempat, makanan para tentera dan pekerja, iaitu bekas seperti gunung kerana saking beratnya dan besarnya. Mereka juga membuat tempat-tempat minum yang besarnya seperti kolam. Sulaiman mengawasi para pekerjanya dan juga mengurus masyarakatnya di mana beliau mengenali masalah mereka dan berusaha memecahkannya. Beliau juga mengawasi pasukannya dari kalangan binatang dan burung. Beliau mengetahui apakah ada satu di antara mereka yang tidak hadir dan di mana ia pergi serta mengapa ia pergi.

Nabi Sulaiman bukan hanya mengetahui masalah tenteranya dari kalangan manusia dan tenteranya dari kalangan burung, namun ia juga menunjukkan kasih sayangnya terhadap semut di mana beliau mendengar bisikannya dan tidak suka untuk menginjaknya. Nabi Sulaiman selalu menundukkan kepalanya ke bumi sebagai bentuk rasa rendah diri dan syukur kepada Allah swt Pada suatu hari ia berjalan di depan tenteranya dan tiba-tiba ia mendengar suara semut yang berkata kepada temannya dari kalangan semut:

"Sehingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: 'Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu agar kamu tidak terinjak oleh Sulaiman dan tenteranya, sedangkan mereka tidak menyedari';, maka dia tersenyum kerana (mendengar) perkataan semut itu . Dan dia berdoa: 'Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada ke dua orang ibu dan bapaku dan untuk mengerjakan amal soleh yang Engkau redhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang soleh. " (QS. an-Naml: 18-19)

Sulaiman mendengar perbualan semut itu lalu beliau tersenyum kerana mendengar pembicaraannya. Apa yang dibayangkan oleh semut kecil itu? Walaupun Sulaiman mendapatkan kuasa dan mempunyai tentera yang besar, namun beliau menunjukkan kasih sayang terhadap semut. Beliau mendengar bisikannya dan melihat semut yang di depannya. Oleh kerana itu, tak mungkin baginya untuk menginjaknya. Sulaiman bersyukur kepada Allah swt yang telah memberinya nikmat ini, iaitu nikmat rahmat dan nikmat kasih sayang. Di samping itu, Sulaiman orang yang paling kaya di dunia di mana istananya terbuat dari kayu gaharu yang mempunyai bau yang harum dan istananya terbuat dari emas dan kadang-kadang dari kristal. Beliau juga mempunyai kerusi besar yang dibuat dari emas dan permata. Istana Sulaiman merupakan istana yang paling besar di dunia. Sulaiman menggunakan pakaian dari emas dan permata. Walaupun demikian, Sulaiman tetap menunjukkan sebagai hamba yang berserah diri dan rendah diri kepada Allah swt dan kepada umat manusia. Nabi Sulaiman yang merendahkan dirinya di hadapan Allah swt dan ia selalu sujud pada Allah swt sebagaimana ayahnya yang selalu bertasbih kepada Allah swt Sulaiman selalu melantunkan lagu-lagu cinta Ilahi dan hanya memuji Allah swt

Pada suatu hari, Nabi Sulaiman mengeluarkan perintahnya kepada pasukannya untuk bersiap-siap. Sulaiman keluar menyemak pasukannya. Satu demi satu pasukannya ditelitinya. Kumpulan yang pertama adalah kelompok manusia. Sulaiman memperhatikan kesiapan mereka, lalu Sulaiman mengeluarkan perintah-perintahnya. Kemudian Sulaiman memeriksa kumpulan jin dan menyampaikan perintah-perintahnya kepada mereka. Beliau memenjarakan jin yang tampak bermalas-malas semasa bekerja. Lalu ia memeriksa binatang dan berkata kepada mereka, apakah mereka sudah, makan dengan baik dan tidur dengan nyenyak, apakah ada yang mengadu kepadanya, misalnya kerana penyediaan, makanan tidak layak, apakah di sana ada yang sakit, dan sebagainya. Ketika Sulaiman merasa puas dengan semuanya, Sulaiman memasuki tenda tempat berkumpulnya burung. Belum lama Sulaiman memasuki tenda tersebut dan mengamat-amati keadaan di sekitarnya sehingga ia mengetahui burung yang tidak hadir iaitu Hud-hud:

"Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata: 'Mengapa aku tidak melihat hud-hud." (QS. an-Naml: 20)

Burung-burung yang lain tampak terdiam sebagai penghormatan dan akan mendengar apa yang akan dikatakan pemimpin mereka Sulaiman. Beliau mengarahkan pandangannya pada semua burung dan tidak menemukan Hud-hud di antara mereka. Tak seekor burung pun yang mengetahui keberadaannya. Sulaiman mula menampakkan kemarahannya:

"Apakah dia termasuk yang tidak hadir?" (QS. an-Naml: 20)

Tiba-tiba seekor burung kecil memberanikan diri untuk berkata kepada Sulaiman: "Wahai Nabi yang mulia, seharusnya hud-hud ada bersamaku kelmarin untuk melaksanakan tugas penyelidikan. Ia adalah pemimpin misi itu namun hud-hud belum datang. Oleh kerana itu, aku tidak pergi bersamanya. " Burung itu tampak gementar ketakutan. Sulaiman mengetahui bahawa hud-hud tidak hadir, dan tak seorang pun mengetahui pemergiannya. Hud-hud pergi tanpa terlebih dahulu meminta izin kepada Nabi Sulaiman dan tidak memberitahu di mana keberadaannya. Dalam keadaan marah, Sulaiman berkata:

"Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras, atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika ia benar-benar datang kepadaku dengan alasan yang jelas." (QS. an-Naml: 21)

Kawanan burung mengetahui bahawa Sulaiman sedang marah dan telah menetapkan untuk menyeksa hud-hud atau menyembelihnya atau justru memaafkannya dengan syarat, ia datang dengan membawa alasan yang dapat menyelamatkannya. Atau dengan kata lain, hud-hud boleh mengesahkan bahawa ia melaksanakan tugas yang penting. Sulaiman menunjukkan kemarahan yang besar sehingga siapa pun akan merasa takut. Ketika Sulaiman marah - walaupun beliau terkenal dengan kasih sayangnya - maka kemarahannya kerana membela kebenaran, kemudian beliau dapat melaksanakan ancamannya dengan cara yang mudah. Seekor burung tampak gementar ketakutan melihat kemarahan Sulaiman, lalu beliau menghulurkan tangannya ke burung itu dan memegang-megang kepalanya sehingga burung itu pun merasa tenang dan rasa takutnya hilang.

Sulaiman pergi dari tenda burung itu dan menuju istananya. Sulaiman masih memikirkan keadaan hud-hud. Seharusnya hud-hud menjadi bahagian penting dari badan perisikan. Apakah ia pergi untuk menyingkap sesuatu, atau apakah ia pergi hanya untuk bermain-main? Sulaiman telah memperhatikan dan mengetahui bahawa hud-hud adalah seekor burung yang cerdik dan juga fasih berbicara. Terkadang Sulaiman mendapati hud-hud sedang bermain-main dan menunda pekerjaannya. Sulaiman melihatnya dan hud-hud memakami bahawa ini tidak benar. Sebab, ia tidak boleh mencampur adukkan antara waktu serius dan waktu bermain.

Akhirnya, tidak lama selepas pemergiannya, hud-hud tiba di tenda burung. Burung-burung yang lain berkata kepadanya: "Pergilah engkau ke tempat tuan kita Sulaiman. Jika ia mengetahui bahawa engkau telah sampai, maka jiwamu benar-benar terancam." Hud-hud terbang dan menemui Sulaiman. Pada waktu itu beliau sedang duduk sambil, makan. Hud-hud berdiri dan telah menetapkan untuk memulakan perbincangan dengan Sulaiman sebelum beliau bertanya kepadanya ke mana dia pergi. Ini sebagai bukti bahawa ia melaksanakan tugas penting. Hud-hud berkata:

"Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya dan aku datang kepadamu dari negeri Saba 'suatu berita penting yang diyakini." (QS. an-Naml: 22)

Aku adalah hud-hud yang miskin, tetapi aku mengetahui apa yang tidak engkau ketahui, dan aku telah datang kepadamu dari kerajaan Saba 'dengan membawa berita yang sangat penting. Sulaiman tampak terdiam dan menunggu hud-hud menyelesaikan pembicaraannya:

"Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgahsana yang besar. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka, lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah ), sehingga mereka tidak dapat petunjuk. " (QS. an-Naml: 23-24)

Hud-hud diam sejenak dan Sulaiman merasa bahawa hud-hud menunjukkan kefasihan lisannya dan berbicara dengan baik kepadanya. Hud-hud mengemukakan perkataan yang sering disampaikan Nabi Sulaiman, kepada manusia dan burung:

"Agar mereka tidak menyembah Allah Yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Allah, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Tuhan yang mempunyai Arasy yang besar." (QS. an-Naml: 25-26)

Jelas sekali bahawa hud-hud mengulangi perkataan pemimpin kita Sulaiman, sebagai usaha terakhir untuk mendapatkan kasih sayang Sulaiman dan agar beliau puas hati dengan penjelasannya itu. Sulaiman berkata sambil menunjukkan senyuman manis di wajahnya:

"Akan kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta." (QS. an-Naml: 27)

Hud-hud ingin mengatakan, aku tidak bohong wahai Nabi yang mulia namun diamnya Sulaiman membuatnya takut, sehingga ia pun terdiam. Sulaiman terdiam kerana berfikir, lalu ia memutuskan sesuatu. Setelah itu, beliau mengangkat kepalanya dan meminta secarik kertas dan pena. Sulaiman akan menulis surat pendek dan menyerahkannya kepada hud-hud dan memerintahkannya:

"Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkanlah kepada mereka, kemudian berundurlah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan." (QS. an-Naml: 28)

Al-Quran al-Karim hanya menceritakan dalam surah an-Naml bagaimana perginya hud-hud dan bagaimana ia menyerahkan surat itu. Lalu, Al-Quran langsung menyebut keadaan kerajaan Balqis yang ketika itu dia sedang membaca surat tersebut di depan para pembesar kerajaannya dan para menterinya:

"Berkata ia (Balqis): 'Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia. Sesungguhnya surat itu, dari Sulaiman dan sesungguhnya (isi) nya:' Dengan menyebut nama Allah, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Bahawa janganlah kamu berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri. '"(QS. an-Naml: 29 - 31)

Dalam surat Sulaiman itu disebutkan, hendaklah mereka menyerahkan diri dan tunduk kepada perintahnya. Sulaiman memerintahkan agar mereka meninggalkan penyembahan terhadap matahari. Sulaiman tidak mempersoalkan akidah mereka dan tidak memuaskan mereka dengan apa pun. Sulaiman hanya memerintahkan bahawa ia berada di atas kebenaran. Bukankah ia disokong kekuatan yang berlandaskan keyakinan yang dimilikinya Sulaiman hanya memerintahkan mereka agar tunduk dan patuh kepadanya. Ratu Saba 'menyampaikan surat tersebut di tengah-tengah kaumnya:

"Berkata dia (Balqis): 'Wahai putera para pembesar, berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini) aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majlis (ku).'" (QS. an-Naml: 32)

Sementara itu, reaksi para pembesar istana adalah menentang surat tersebut. Isi surat itu membangkitkan kecongkakan kaum Saba 'di mana mereka merasa lebih kuat.

0 comments:

Post a Comment