Sunday, 16 October 2016

siapakah fir'aun yang sebenarnya.

FIR'AUN DAN ISTERINYA

PENDAHULUAN
Kali ini, penulis menulis makalah yang berbau sejarah. Yang dijadikan topik adalah sekitar kisah Fir’aun dan isterinya. Di berbagai media di internet dijelaskan tentang penemuan-penemuan yang berhubungan dengan sejarah Mesir kuno. Di antaranya adalah mumi, piramid, dan kuburan tua. Makalah ini ditulis untuk mencari tahu tentang hubungan antara yang tertulis dalam Al Qur’an, yaitu tentang Fir’aun dan isterinya, dan hasil penemuan tersebut.

FIR’AUN DALAM AL QUR’AN
Fir’aun (bahasa inggeris : Pharaoh) adalah seorang tokoh Mesir yang disebutkan dalam Al Qur’an (43:51). Fir’aun adalah julukan bagi raja-raja di kerajaan Mesir. Dengan demikian, para Fir’aun Mesir mempunyai nama gelar raja yang berbeda-beda. Misalnya, nama gelar raja Mesir dinasti ke 19 adalah Rameses/Ramesses atau Ramses.

43:51. Dan Fir'aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata: "Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku; maka apakah kamu tidak melihat(nya)?

Kisah Fir’aun dan Nabi Musa disebutkan dalam Al Qur’an (7:103). Fir’aun yang manakah yang hidup dan berinteraksi dengan Nabi Musa? Apakah Ramses I, Ramses II, atau yang selainnya? Inilah yang menjadi pertanyaan banyak orang.

7:103. Kemudian Kami utus Musa sesudah rasul-rasul itu dengan membawa ayat-ayat Kami kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya, lalu mereka mengingkari ayat-ayat itu. Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang membuat kerusakan.

Penemuan mumi (tubuh orang mati yang diawetkan) di Mesir sering dikaitkan dengan nama raja di Mesir. Menuruthttp://en.wikipedia.org/wiki/Ramesses_II, salah satu mumi yang pernah ditemukan adalah mumi Fir’aun yang bergelar raja Ramses IIyang hidup dari 1303 BC – 1213 BC (sekadar mengingatkan bahwa kisaran waktu BC (Before Christ) adalah menurun dari yang besar ke yang lebih kecil). Gambar mumi Rameses II adalah sebagai berikut (sumber :http://ancienthistory.about.com/od/egypt/ig/Ancient-Egypt/Pharaoh-Ramses-II-of-Egypt.htm).


Gambarnya yang lebih detail disajikan pula untuk memperlihatkan tingkat keutuhan mumi Ramses II. Gambarnya adalah sebagai berikut (sumber :http://www.nadeemdownloads.com/Pharoah%20(Ramses%202).html).


Benarkah itu mumi raja Mesir yang disebutkan dalam Al Qur’an? Makalah ini akan berusaha menjawabnya dengan ayat-ayat Al Qur’an. Ayat-ayat Al Qur’an yang diduga kuat berhubungan dengan penemuan mumi tersebut adalah 10:90 sampai 10:92.

10:90. Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir'aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir'aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: "Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)."

10:91. Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.

10:92. Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.

Kunci jawaban pertanyaan tentang mumi tersebut ada pada 10:92. Dalam terjemahan 10:92 versi Dep. Agama RI, secara eksplisit disebutkan penyelamatan badan Fir’aun. Artinya, yang diselamatkan adalah badannya. Bagaimana dengan jiwanya? Apakah Fir’aun benar-benar mati pada kejadian itu? Ini perlu diklarifikasi lebih lanjut karena ada terjemahan versi lain yang membangkitkan pertanyaan tersebut. Ayat terjemahan tersebut adalah sebagai berikut.

010.092 "This day shall We save thee in the body, that thou mayest be a sign to those who come after thee! but verily, many among mankind are heedless of Our Signs!" (versi Abdullah Yusuf Ali).

Terjemahan frase yang bergarisbawah adalah Kami selamatkan kamu dalam tubuh tersebut. Di sini, Fir’aun diselamatkan dalamtubuh tersebut. Tubuh apa? Apakah tubuh kapal atau tubuh ikan atau tubuh yang selainnya? Hal ini berpotensi menimbulkan penafsiran bahwa Fir’aun tidak mati pada waktu itu. Pertanyaan spekulatif tersebut perlu dijawab dahulu karena menurut yang penulis tonton dalam film ”The Ten Commandments”, Fir’aun tidak mati ketika Nabi Musa membelah laut. Oleh karena itu, kita perlu menegaskan lebih dahulu sebelum menyimpulkan bahwa Fir’aun mati atau tidak dalam peristiwa tersebut.

Dijelaskan bahwa Fir’aun akhirnya tenggelam dalam pengejaran Nabi Musa dan umatnya (20:78; 2:50; 43:55; dan 7:136). Orang yang tenggelam dalam air laut akan mati karena manusia tidak bisa hidup dalam air laut. Penenggelaman Fir’aun dan pengikutnya adalah sebagai hukuman (43:55 dan 7:136) sehingga mereka pasti mati.

20:78. Maka Fir'aun dengan bala tentaranya mengejar mereka, lalu mereka ditutup oleh laut yang menenggelamkan mereka.

2:50. Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir'aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan.

43:55. Maka tatkala mereka membuat Kami murka, Kami menghukum mereka lalu kami tenggelamkan mereka semuanya (di laut),

7:136. Kemudian Kami menghukum mereka, maka Kami tenggelamkan mereka di laut disebabkan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami itu.

Bagaimana dengan spekulasi bahwa Allah menerima taubat Fir’aun dan kemudian menyelamatkan jiwanya dalam peristiwa itu? Ayat 20:40 dan 20:41 menegaskan bahwa taubatnya tidak diterima karena pada hari kiamat mereka akan masuk neraka.

20:40. Maka Kami hukumlah Fir'aun dan bala tentaranya, lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut. Maka lihatlah bagaimana akibat orang-orang yang zalim.

20:41. Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menyeru (manusia) ke neraka dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong.

Dari uraian di atas, dapat disampaikan di sini bahwa Fir’aun mati karena ditenggelamkan ke dalam laut oleh Allah. Lalu, apa maksudKami selamatkan kamu dalam tubuh tersebut? Menurut penulis, yang selamat adalah nama dan kisah kehidupannya. Nama dan kisah Fir’aun melekat dalam tubuhnya dan akan tetap hidup sampai sekarang, tidak hanya ada dalam Al Qur’an. Menurut penulis, setelah tenggelam dan mati, tubuhnya masih dalam keadaan utuh dan tidak dimakan binatang laut. Kemudian, oleh keluarga kerajaan yang tidak ikut dalam pengejaran Nabi Musa, tubuhnya diawetkan dalam bentuk mumi. Perlu diingat bahwa yang diinginkan Allah pasti terjadi. Jika Allah ingin menyelamatkan tubuh Fir’aun, tubuh Fir’aun pun pasti akan selamat. Itulah kurang-lebih makna Allah menyelamatkan badan Fir’aun dalam 10:92.

Jika mumi tersebut ditemukan, mumi tersebut akan menjadi bukti bahwa kisah Fir’aun dalam Al Qur’an adalah fakta sejarah. Dan yang lebih penting lagi, mumi tersebut akan menjadi pelajaran bagi manusia sesudah Nabi Musa yaitu tentang akibat yang akan dialami oleh orang yang kehidupannya seperti Fir’aun.

Berkaitan dengan penemuan mumi yang diduga adalah Fir’aun bergelar Ramses II, kita belum dapat memastikan bahwa yang ditenggelamkan di laut oleh Allah adalah Ramses II. Yang dapat disampaikan adalah bahwa mungkin saja Fir’aun yang disebutkan dalam Al Qur’an adalah Ramses II. Oleh karena itu, kepastian bahwa Ramses II adalah Fir’aun yang dikisahkan dalam Al Qur’an membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Sebuah makalah dalam
 menyebutkan bahwa ada seorang dokter Perancis bernama Maurice Bucaille yang menyelidiki penyebab kematian Ramses II. Beliau mendapati kondisi mumi raja tersebut lebih terselamatkan daripada mumi-mumi yang lain. Ini menunjukkan bahwa ada suatu mekanisme penyelamatan tubuh seperti yang disebutkan dalam 10:92. Selain itu, beliau mendapati kandungan garam pada mumi tersebut, yang diduga menjadi penyebab kematian raja Ramses II. Temuan tersebut mendukung dugaan bahwa Ramses II mati karena tenggekam dalam air laut. Berdasarkan temuan tersebut, banyak orang beranggapan bahwa Ramses II adalah Fir’aun yang disebutkan dalam Al Qur’an.

Suatu anggapan belum tentu benar sehingga perlu dibuktikan lagi kebenarannya melalui penelitian. Walaupun demikian, berdasarkan hasil penelitian yang sudah ada hingga saat ini, penulis berpendapat bahwa Ramses II adalah Fir’aun yang disebutkan dalam Al Qur’an.

ISTERI FIR’AUN CONTOH WANITA BERIMAN
Isteri Fir’aun adalah contoh bagi orang-orang yang beriman (66:11). Sebelum membahas lebih lanjut, kata perumpamaan dalam terjemahan versi Dep. Agama RI perlu dibahas lebih dahulu.Perumpamaan mempunyai arti yang bersifat pengandaian (tidak sebenarnya) yang jika disambung dengan kata bagi (kata yang mengikuti dalam naskah terjemahan) menjadi tidak cocok.

66:11. Dan Allah membuat isteri Fir'aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: "Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim. (versi Dep. Agama RI)

Abdullah Yusuf Ali menerjemahkan kata yang diterjemahkan menjadiperumpamaan tersebut menjadi an example (sebuah contoh). Kutipan terjemahannya adalah sebagai berikut.

066.011 And Allah sets forth, as an example to those who believe the wife of Pharaoh: Behold she said: "O my Lord! Build for me, in nearness to Thee, a mansion in the Garden, and save me from Pharaoh and his doings, and save me from those that do wrong";  (versi Abdullah Yusuf Ali)

Jadi, terjemahan 66:11 versi Dep. Agama adalah tidak tepat. Jika direvisi, terjemahan tersebut akan menjadi seperti berikut ini.

66:11. Dan Allah membuat isteri Fir'aun satu contoh bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: "Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.

Ayat tersebut menerangkan bahwa isteri Fir’aun beriman kepada Allah. Ia lebih memilih beriman kepada Allah daripada mengikuti suaminya yang kafir. Sebagai contoh orang beriman, ia tentu termasuk orang-orang yang berada di jalan Allah dan akan dimasukkan ke dalam surga.

Siapa yang mengajari isteri Fir’aun tentang keimanan pada Allah? Tentu saja, yang mengajari adalah Nabi Musa karena Nabi Musa sudah lama tinggal bersama keluarga Fir’aun (26:18). Menurut penulis, istri Fir’aun yang disebut dalam 66:11 adalah ibu angkat Musa (20:9). Dengan demikian, wajar jika istri Fir’aun mendapat ajaran islam dari anak angkatnya, yaitu Musa. Ayat 20:9 juga menunjukkan bahwa isteri Fir’aun jauh lebih tua daripada Nabi Musa karena selisih umurnya sama dengan selisih umur antara seorang bayi dan ibunya. Demikian juga, Fir’aun sendiri juga jauh lebih tua daripada Musa karena menjumpai Musa ketika masih kanak-kanak (26:18). Kisah tentang hal tersebut dalam Al Qur’an berbeda dengan yang ada dalam film ”The Ten Commandments”. Dalam film itu, Fir’aun yang bermusuhan dengan Nabi Musa kurang lebih mempunyai umur yang sebaya dengan Nabi Musa. Isterinya pun demikian juga. Dalam film itu pula, yang mengasuh Musa kecil adalah isteri ayah Fir’aun yang bermusuhan dengan Nabi Musa, bukan isteri Fir”aun yang bermusuhan dengan Musa.

20:9. Dan berkatalah isteri Fir'aun: "(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak", sedang mereka tiada menyadari.

26:18. Fir'aun menjawab: "Bukankah kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamutinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu.

Jadi, kondisi keluarga Fir’aun yang tertuang dalam Al Qur’an adalah sebagai berikut. Fir’aun yang bermusuhan dengan Musa mempunyai isteri yang memungut Musa sebagai anaknya. Fir’aun yang bermusuhan dengan Musa mempunyai umur yang jauh lebih tua daripada Musa karena hubungannya seperti antara ayah dan anak. Hubungan antara isteri Fir’aun yang bermusuhan dengan Musa adalah seperti antara ibu dan anak.

Isteri Fir’aun yang menjadi contoh wanita beriman yang disebutkan dalam 66:11 adalah isteri Fir’aun yang memungut Musa sebagai anaknya. Hal tersebut tercermin pada doanya yang disebutkan dalam ayat tersebut. Doa tersebut menunjukkan bahwa Fir’aun yang dimaksud adalah yang bermusuhan dengan Nabi Musa. Artinya, ia adalah istri Fir’aun pada saat Fir’aun yang bermusuhan dengan Nabi Musa masih hidup.

Siapakah isteri Fir’aun tersebut? Isteri Ramses II yang kuburannya ditemukan bernama Nefertari. Gambar Nefertari yang terdapat pada tembok makamnya adalah seperti berikut ini (sumber :http://en.wikipedia.org/wiki/Nefertari).


Apakah Nefertari adalah isteri Fir’aun yang menjadi contoh wanita beriman? Rasa-rasanya, sulit untuk mendapatkan jawaban yang meyakinkan. Mungkin saja, Fir’aun mempunyai isteri lebih dari satu. Yang memungut Musa menjadi anak angkat dan kemudian beriman kepada Nabi Musa mungkin hanyalah salah satu dari sejumlah isteri Fir’aun. Oleh karena itu, Nefertari belum tentu ibu angkat Nabi Musa.

Walaupun demikian, kita bisa mengambil pelajaran dari gambar Nefertari dalam kuburannya, yaitu tentang busana atau pakaian yang dikenakan oleh isteri-isteri Fir’aun. Menurut penulis, pakaian yang dipakai oleh isteri Fir’aun yang dijadikan sebagai contoh wanita beriman oleh Allah kurang lebih sama dengan yang dipakai Nefertari. Pakaian isteri Fir’aun mencerminkan selera Fir’aun tentang pakaian isteri-isterinya sehingga yang dipakai oleh mereka mengikuti ketentuan kerajaan. Oleh karena itu, pakaian yang dipakai Nefertari menggambarkan pakaian isteri Fir’aun yang dijadikan sebagai contoh wanita beriman oleh Allah.

Jika dicermati, pakaian Nefertari dalam gambar tersebut mencitrakan wanita terhormat. Rambutnya ditutupi sejenis mahkota dan sebagian darinya kelihatan terurai ke bawah. Bagian dadanya tertutup sedangkan bagian lengannya adalah kain transparan bermotif garis. Selebihnya, pembaca dapat mengamatinya sendiri.

Yang menarik adalah bahwa Nefertari tidak menggunakan jilbab atau kerudung yang menutupi rambut. Kemudian, bagian dadanya tertutup kain. Dengan demikian, para isteri Fir’aun tidak menutupi seluruh rambutnya atau tidak berjilbab atau tidak berkerudung. Oleh karena itu, penulis berpendapat bahwa contoh wanita beriman yang disebutkan dalam Al Qur’an juga tidak menutupi seluruh rambutnya atau tidak berjilbab atau tidak berkerudung.

Berdasarkan hasil penelitian yang ada hingga saat ini, penulis berpendapat bahwa Fir’aun yang disebutkan dalam Al Qur’an adalah Ramses II yang hidup dari dari 1303 BC – 1213 BC. Selain itu, isterinya yang bernama Nefertari belum tentu isteri Fir’aun yang dijadikan sebagai contoh wanita beriman oleh Allah. Menurut penulis, isteri Fir’aun yang dijadikan sebagai contoh wanita beriman oleh Allah tidak berkerudung atau tidak berjilbab. Artinya, untuk menjadi wanita beriman, seorang wanita tidak harus menutupi seluruh rambutnya dengan kerudung atau penutup rambut lainya.

adakah kita layak memasuki syurga ALLAH S.W.T

ALLAH SWT menjelaskan bahawa orang yang akan memasuki syurga-Nya kelak
adalah dalam keadaan berkumpulan. Ia dijelaskan dalam firman-Nya yang
bermaksud: “Dan orang yang bertakwa kepada Rabb-nya dibawa ke syurga
berombongan, apabila mereka sampai ke syurga itu, pintunya terbuka dan
berkatalah kepada mereka penjaganya: Kesejahteraan dilimpahkan atasmu,
berbahagialah kamu, masukilah syurga ini, sedang kamu kekal di
dalamnya.” (QS Az-Zumar: 73)

Ibn Kathir menjelaskan, setiap orang yang bertakwa akan menuju ke syurga
bersama-sama dengan kelompok mereka seperti nabi bersama nabi, golongan
syuhada bersama kumpulan syuhada, golongan ulama bersama kumpulan ulama,
orang yang jujur bersama orang yang jujur dan begitulah seterusnya.
Dalam erti kata lain, setiap orang dikumpulkan sesuai dengan kumpulan
mereka.

Begitu pun, di kalangan kelompok manusia di atas, Rasulullah SAW adalah
orang yang pertama sekali memasuki syurga. Hal ini dijelaskan oleh Anas
bin Malik bahawa Rasulullah SAW bersabda: “Aku mendatangi pintu syurga
pada hari kiamat, lalu aku meminta dibuka. Penjaga berkata: Siapa
engkau: Aku Muhammad. Penjaga berkata: Aku diperintahkan untuk tidak
membukakannya untuk seorang pun sebelummu.” (HR Muslim)

Selepas Rasulullah SAW memasukinya, barulah kumpulan lain akan
memasukinya mengikut pintu syurga yang ditentukan berdasarkan amalan
mereka. Keadaan ini dijelaskan oleh Abu Hurairah, bahawa Rasulullah SAW
bersabda: “Barang sesiapa yang berinfak dengan emas dan perak daripada
hartanya di jalan Allah, maka dia akan dipanggil dari mana-mana pintu
syurga. Syurga itu ada beberapa pintu. Sesiapa yang rajin menunaikan
solat, maka dia akan dipanggil dari pintu solat. Sesiapa yang rajin
bersedekah, maka dia akan dipanggil dari pintu sedekah. Sesiapa yang
berjihad, akan dipanggil dari pintu jihad dan sesiapa yang berpuasa, dia
akan dipanggil dari pintu ar-Rayyan."

Hadis itu menjelaskan syurga mempunyai beberapa pintu. Rasulullah SAW
menjelaskan bahawa syurga itu memiliki lapan pintu. Ia dijelaskan oleh
Umar al-Khattab bahawa Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah salah seorang
di antara kamu berwuduk, kemudian menyempurnakan wuduknya, lalu membaca:
Aku bersaksi bahawa tidak ada yang hak kecuali Allah Maha Esa, yang
tiada sekutu bagi-Nya dan aku bersaksi bahawa Muhammad adalah hamba dan
Rasul-Nya, melainkan dibuka baginya pintu-pintu syurga yang berjumlah
lapan pintu dan ia masuk dari pintu mana saja yang ia kehendaki.” (HR
Muslim)

Pintu syurga ada lapan, tetapi jarak di antara satu pintu dengan yang
lain amat jauh, sejauh di antara Makkah dan Hajar (sebuah kota di
Bahrain). Jarak ini dijelaskan dalam hadis daripada Abu Hurairah, di
mana beliau berkata: “Allah berfirman: Wahai Muhammad, masukkan umatmu
yang tidak dihisab melalui pintu sebelah kanan. Mereka bebas masuk pintu
lainnya bersama orang lain." Rasulullah SAW bersabda: Demi Tuhan yang
jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, jarak di antara dua daun pintu syurga
adalah seperti Makkah dan Hajar atau di antara Hajar dan Makkah.” (HR
Bukhari & Muslim).

Di dalam syurga, nikmatnya tidak terhingga, sehingga digambarkan
kenikmatannya adalah sesuatu yang belum pernah terlihat oleh mata, belum
pernah terdengar oleh telinga dan tidak pernah juga terlintas dalam
fikiran manusia.

Di dalam al-Quran, Allah menyifatkan syurga itu dengan beberapa keadaan
seperti firman-Nya: “Di dalamnya ada sungai-sungai daripada air yang
tidak berubah rasa dan baunya, sungai-sungai daripada susu yang tidak
berubah rasanya, sungai-sungai daripada khamar yang lazat rasanya bagi
peminumnya dan sungai-sungai daripada madu yang disaring dan mereka di
dalamnya memperoleh segala macam buah-buahan.” (QS Muhammad: 15)

Mengenai sifat syurga di atas, Rasulullah SAW juga bersabda: “Di dalam
syurga itu ada lautan susu, lautan air, lautan madu dan lautan khamar.
Sungai-sungai itu mengalir daripadanya.” (HR At-Tirmidzi).

Di dalam syurga kelak, tidak akan ada penghuninya yang tidak menikah.
Hal ini dijelaskan oleh Abu Hurairah, di mana Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya rombongan pertama yang masuk syurga seperti bulan pada
malam purnama dan rombongan seterusnya seperti cahaya bintang yang
bersinar di langit, masing-masing daripada mereka mempunyai dua isteri
yang mana mereka dapat melihat sum-sum betisnya daripada luar kulit dan
di dalam syurga tidak ada orang yang tidak menikah.” (HR Bukhari & Muslim).

Malah, mereka diberikan oleh Allah rumah yang diperbuat daripada mutiara
dan ruangnya amat luas tidak terhingga. Keadaan ini dijelaskan oleh
Rasulullah SAW dalam sabda Baginda: “Sesungguhnya di syurga ada rumah
yang diperbuat daripada mutiara yang mempunyai ruang yang luas.” (HR
Bukhari)

Ketika Rasulullah SAW di isra'kan, Baginda diperlihatkan bagaimana rumah
dan keadaan tanah di dalam syurga seperti disabdakan oleh Baginda yang
bermaksud: “Di dalamnya ada kubah-kubah permata dan tanahnya adalah
minyak wangi.” (HR Bukhari & Muslim)

Disebutkan di dalam kitab “ KASYFUL GHAIBIAH” yang ditulis oleh Syeikh
Zainal Abidin bin Muhammad Al-Fathani menerangkan tentang keadaan syurga
dan penduduknya kelak, berkata Ibnu Abbas: “Bahawa syurga itu mempunyai
8 buah pintu gerbang iaitu:

1. Pintu masuk untuk para nabi, syuhada, orang-orang dermawan, orang
yang mendermakan hartanya di jalan Allah. Di atas pintu tersebut
tertulis dua kalimah syahadah yang indah.

2. Pintu masuk bagi orang yang sangat rapih, memenuhi syarat dan rukun
serta meneliti fardhu dan sunnahnya dalam solat.

3. Pintu masuk bagi mereka yang suka mengeluarkan zakat dengan hati yang
tulus ikhlas semata-mata kerana Allah.

4. Pintu masuk orang-orang yang suka menyeru dan mengajak kepada kebaikan.

5. Pintu masuk bagi orang-orang yang dapat mengekang nafsunya dari
melakukan perbuatan yang diharamkan dalam Islam.

6. Pintu masuk bagi orang yang melakukan rukun Islam yang kelima iaitu
melakukan haji dan umrah yang mabrur.

7. Pintu masuk bagi orang-orang yang membela dan berjuang di jalan Allah.

8. Pintu masuk bagi orang yang berbakti kepada kedua orang tuanya,
keluarganya serta sanak saudaranya.

Demikian keterangan yang dinyatakan dalam hadis dimana syurga-syurga itu
telah disediakan oleh Allah dengan beberapa tingkatan yang akan
diberikan kepada hambaNYA sesuai dengan amal perbuatan masing-masing.

Diceritakan, ketika semua para hamba Allah telah dihisab dan telah
menerima buku catatan amalnya yang diterima dengan tangan kanan mereka,
pada waktu itu semua manusia merasa gembira yang tidak terkira, sehingga
mereka yakin bahawa Allah akan memasukkan mereka ke dalam syurga yang
penuh dengan kenikmatan. Manakala mereka akan memasuki gedung yang indah
itu, mereka akan disambut oleh 'wildan' (pelayan muda) yang memang sudah
sekian lama menanti kehadiran orang yang akan mengisi gedung tersebut
(syurga).

Demikianlah keadaan gedung-gedung itu yang sangat indah bentuknya
sedangkan lantainya dihampar dengan permaidani yang indah pula dan di
dalamnya mengalir air sungai yang ditumbuhi oleh pohon-pohon yang sangat
rendang dan buahnya yang manis dan lazat.

Firman Allah SWT: "Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang
beriman dan berbuat baik, bahawa bagi mereka disediakan syurga-syurga
yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki
buah-buahan dalam syurga-syurga itu, mereka mengatakan: " Inilah yang
pernah diberikan kepada kami dahulu ". Mereka diberi buah-buahan yang
serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan
mereka kekal di dalamnya." (QS Al-Baqarah: 25)

Dengan mata air terpancar, taman syurga yang terhidang dengan segala
kelazatan adalah destinasi yang aman dan sentosa. Mereka yang
menghuninya kekal di dalamnya, tidak akan merasai kematian lagi.

Terdapat pohon-pohon dan buahan. Sungai mengalir di bawah syurga. Ada
air yang tidak berubah (rasa dan baunya). Terdapat beberapa sungai dari
arak yang lazat bagi orang yang meminumnya dan beberapa sungai dari madu
yang suci bersih.

Penghuninya dilayan anak muda yang beredar di sekitar mereka, yang
cantik seolah-olah seperti mutiara yang tersimpan sebaik-baiknya.

“Dan diedarkan kepada mereka bejana dari perak dan piala-piala minuman
yang keadaannya laksana kaca (nampak jelas isinya) - (keadaannya
laksana) kaca, (sedang ia) dari perak, pelayan-pelayan itu menentukan
kadar isinya sekadar yang cukup betul dengan kehendak penggunanya dan
mereka di dalam syurga itu diberi minum sejenis minuman yang campurannya
daripada zanjabil - iaitu sebuah mata air di dalam syurga yang
disebutkan sifatnya sebagai salsabil dan mereka dilayani oleh anak-anak
muda lelaki yang tetap kekal (dalam keadaan mudanya), yang sentiasa
beredar di sekitar mereka, apabila engkau melihat anak-anak muda itu
nescaya engkau menyangkanya mutiara yang bertaburan.” (QS Al-Insaan: 15-19)

Di syurga juga terdapat teman-teman yang baik akhlaknya lagi cantik
rupanya, iaitu bidadari yang hanya tinggal di tempat tinggal
masing-masing. Bidadari ini cantik berseri seperti permata delima dan
marjan. Kulit mereka putih melepak, cantik matanya, malah pandangannya
tertumpu kepada mereka semata-mata.

Bidadari ini juga tidak pernah disentuh oleh manusia mahupun jin. Mereka
bersenang lenang, bergurau senda di atas cadar hijau warnanya dan
permaidani yang sangat indah. Golongan yang sangat bertuah ini disebut
sebagai 'Ashaabul Yamiin' (golongan kanan).

Wallahua'lam.
 
Template designed by Liza Burhan